Strategi merupakan usaha untuk memperoleh kesuksesan dan keberhasilan dalam mencapai tujuan. Dalam dunia pendidikan strategi dapat diartikan sebagai a plan, method, or series of activities designed to achieves a particular educational goal (J. R. David, 1976). Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran yang disusun untuk mencapai tujuan tertenu. Dalam hal ini adalah tujuan pembelajaran.
Pada mulanya istilah strategi banyak digunakan dalam dunia militer yang diartikan sebagai cara penggunaan seluruh kekuatan militer untuk memenangkan suatu peperangan. Sekarang, istilah strategi banyak digunakan dalam berbagai bidang kegiatan yang bertujuan memperoleh kesuksesan atau keberhasilan dalam mencapai tujuan. Misalnya seorang manajer atau pimpinan perusahaan yang menginginkan keuntungan dan kesuksesan yang besar akan menerapkan suatu strategi dalam mencapai tujuannya itu, seorang pelatih akan tim basket akan menentukan strategi yang dianggap tepat untuk dapat memenangkan suatu pertandingan. Begitu juga seorang guru yang mengharapkan hasil baik dalam proses pembelajaran juga akan menerapkan suatu strategi agar hasil belajar siswanya mendapat prestasi yang terbaik.
Tips dan trik, bisnis, tutorial, teknologi, pendidikan, pembelajaran, agama, tokoh, model dan strategi belajar.
Monday, 28 March 2011
Pendidikan Islam Multikultural
Lembaga pendidikan Islam di era sekarang dihadapkan kepada perubahan yang mendasar, terutama memersiapkan siswa yang nantinya akan berintegrasi dengan masyarakat yang berasal dari berbagai macam latar belakang budaya, suku, dan agama. Untuk mendapatkan hasil maksimal dari sebuah proses pendidikan agama, ada dua hal sebagai “pekerjaan rumah (PR)” lembaga tersebut, terutama pendidik/guru agama Islam, yakni: para penddik tersebut sudah saatnya butuh pengertian yang mendalam dan harus merasa peka terhadap isu-isu pemahaman keagamaan yang sedang berkembang dalam masyarakat umum. Baru kemudian, para pendidik ini harus bisa membantu siswanya untuk sadar akan pentingnya memahami budaya yang bermacam-macam dalam masyarakat, khususnya dibidang keagamaan.
Jika tidak demikian, tampaknya lembaga pendidikan, khususnya Islam, sulit berpartisipasi dalam menengahi model-model pemahaman islam radikal yang sering dituduh sebagai penyulut munculnya ketidaknyamanan dalam masyarakat beragama. Lembaga-lembaga pendidikan, terutama dimasa akan datang, harus bisa memproduksi sarjana islam yang berpikiran moderatuntuk mewadahi berbagai macam pemahaman yang cenderung radikal itu.
Pendidikan multikultural merupakan strategi pembelajaran yang menjadikan latar belakang budaya siswa yang bermacam-macam digunakan sebagai usaha untuk meningkatkan pembelajaran siswa di kelas dan lingkungan sekolah. Yang demikian dirancang untuk menunjang dan memperluas konsep-konsep budaya, perbedaan, kesamaan, dan demokrasi.Ada pula yang mengatakan pendidikan multikultural adalah sebuah ide atau konsep, sebuah gerakan pembaharuan pendidikan dan proses. Konsep ini muncul atas dasar semua siswa, tanpa menghiraukan jenis dan statusnya, punya kesempatan yang sama atau belajar disekolah formal.
Dua definisi di atas tampaknya lahir pada setting historis khusus, yakni pada lembaga-lembaga pendidikan tertentu di wilayah Amerika yang pada awalnya diwarnai oleh sistem pendidikan yang mengandung diskriminasi etnis, berbeda dengan sistem pendidikan (Islam) yang ditemukan di Asia terutama Indonesia, yang sejak awal begitu menampakkan diskriminasi radikal di dalam kelas. Perbedaan ruang kelas antara pria dan wanita pada lembaga-lembaga tertentu pada lembaga pendoidikan islam misalnya, tidak bisa langsung diartikan sebagai tindakan diskriminatif, karena yang demikian lebih dimaknai sebagai intisipasi terhadap pelanggaran moral baik dalam pandangan Islam dan kultur masyarakat.
Oleh karena itulah, pendidikan islam multikultural disisni lebih diartikan sebagai sistem pengajaran yang lebih memusatkan perhatian kepada ide-ide dasar islam yang membicarakan betapa pentingnya memahami dan menghormati budaya dan agama orang lain.
Secara konseptual, rumusan pendidikan Islam multikultural belum menunjukkan jati dirinya secara maksimal, khususnya di dalam lembaga-lembaga pendidikan islam formal. Bukan hanya pendidikan Islam multikultural yang belum dikembangkan, tetapi juga pendidikan agama multikultural saja belum ditentukan bentuknya seperti apa. Barangkali pada lembaga-lembaga tertentu sudah ada tetapi dalam status mata pelajaran muatan lokal.
Ada empat isu pokok yang dipandang sebagai dasar pendidikan Islam multikultural, khususnya di bidang keagamaan, yaitu: 1) kesatuan dalam aspek ketuhanan dan pesan-Nya (wahyu), 2) kesatuan kenabian, 3) tidak ada paksaan dalam beragama, dan 4) pengakuan terhadap eksistensi agama lain.
Sumber:
1.makalah pada Internasional Seminar on Multicultural Education, Cross Cultural Understanding for Democrary and Justice, Yoyakarta 26-26 Agustus 2005 hal. 8.
2.Donna M Gollnick dan Philip C. Chinn, Multicultural Education in a Pluralistic Society, edisi ke-5, (New Jersey, Columbus : Merill an imprint of Prentice Hall, 1998), hal. 3.
3.Jack Levy “Multicultural Education and Democrary in the United State”, makalah pada Internasional Seminar on Multicultural Education Cross Cultural Understanding for Democrary and Justice, Yoyakarta 26-26 Agustus 2005 hal. 8.
Jika tidak demikian, tampaknya lembaga pendidikan, khususnya Islam, sulit berpartisipasi dalam menengahi model-model pemahaman islam radikal yang sering dituduh sebagai penyulut munculnya ketidaknyamanan dalam masyarakat beragama. Lembaga-lembaga pendidikan, terutama dimasa akan datang, harus bisa memproduksi sarjana islam yang berpikiran moderatuntuk mewadahi berbagai macam pemahaman yang cenderung radikal itu.
Pendidikan multikultural merupakan strategi pembelajaran yang menjadikan latar belakang budaya siswa yang bermacam-macam digunakan sebagai usaha untuk meningkatkan pembelajaran siswa di kelas dan lingkungan sekolah. Yang demikian dirancang untuk menunjang dan memperluas konsep-konsep budaya, perbedaan, kesamaan, dan demokrasi.Ada pula yang mengatakan pendidikan multikultural adalah sebuah ide atau konsep, sebuah gerakan pembaharuan pendidikan dan proses. Konsep ini muncul atas dasar semua siswa, tanpa menghiraukan jenis dan statusnya, punya kesempatan yang sama atau belajar disekolah formal.
Dua definisi di atas tampaknya lahir pada setting historis khusus, yakni pada lembaga-lembaga pendidikan tertentu di wilayah Amerika yang pada awalnya diwarnai oleh sistem pendidikan yang mengandung diskriminasi etnis, berbeda dengan sistem pendidikan (Islam) yang ditemukan di Asia terutama Indonesia, yang sejak awal begitu menampakkan diskriminasi radikal di dalam kelas. Perbedaan ruang kelas antara pria dan wanita pada lembaga-lembaga tertentu pada lembaga pendoidikan islam misalnya, tidak bisa langsung diartikan sebagai tindakan diskriminatif, karena yang demikian lebih dimaknai sebagai intisipasi terhadap pelanggaran moral baik dalam pandangan Islam dan kultur masyarakat.
Oleh karena itulah, pendidikan islam multikultural disisni lebih diartikan sebagai sistem pengajaran yang lebih memusatkan perhatian kepada ide-ide dasar islam yang membicarakan betapa pentingnya memahami dan menghormati budaya dan agama orang lain.
Secara konseptual, rumusan pendidikan Islam multikultural belum menunjukkan jati dirinya secara maksimal, khususnya di dalam lembaga-lembaga pendidikan islam formal. Bukan hanya pendidikan Islam multikultural yang belum dikembangkan, tetapi juga pendidikan agama multikultural saja belum ditentukan bentuknya seperti apa. Barangkali pada lembaga-lembaga tertentu sudah ada tetapi dalam status mata pelajaran muatan lokal.
Ada empat isu pokok yang dipandang sebagai dasar pendidikan Islam multikultural, khususnya di bidang keagamaan, yaitu: 1) kesatuan dalam aspek ketuhanan dan pesan-Nya (wahyu), 2) kesatuan kenabian, 3) tidak ada paksaan dalam beragama, dan 4) pengakuan terhadap eksistensi agama lain.
Sumber:
1.makalah pada Internasional Seminar on Multicultural Education, Cross Cultural Understanding for Democrary and Justice, Yoyakarta 26-26 Agustus 2005 hal. 8.
2.Donna M Gollnick dan Philip C. Chinn, Multicultural Education in a Pluralistic Society, edisi ke-5, (New Jersey, Columbus : Merill an imprint of Prentice Hall, 1998), hal. 3.
3.Jack Levy “Multicultural Education and Democrary in the United State”, makalah pada Internasional Seminar on Multicultural Education Cross Cultural Understanding for Democrary and Justice, Yoyakarta 26-26 Agustus 2005 hal. 8.
Friday, 28 January 2011
Tokoh-Tokoh Aliran Teori Belajar Behaviorisme: Ivan Petrovich Pavlov , Thorndike, dan Skinner .
a. Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936)
Ivan Petrovich Pavlov lahir 14 September 1849 di Ryazan Rusia. Ia mengemukakan bahwa dengan menerapkan strategi ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.
Pavlov mengadakan percobaan laboratories terhadap anjing. Dalam percobaan ini anjing di beri stimulus bersarat sehingga terjadi reaksi bersarat pada anjing. Contoh situasi percobaan tersebut pada manusia adalah bunyi bel di kelas untuk penanda waktu tanpa disadari menyebabkan proses penandaan sesuatu terhadap bunyi-bunyian yang berbeda dari pedagang makan, bel masuk, dan antri di bank. Dari contoh tersebut diterapkan strategi Pavlo ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan. Sementara individu tidak sadar dikendalikan oleh stimulus dari luar. Belajar menurut teori ini adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat yang menimbulkan reaksi.Yang terpenting dalam belajar menurut teori ini adalah adanya latihan dan pengulangan. Kelemahan teori ini adalah belajar hanyalah terjadi secara otomatis keaktifan dan penentuan pribadi dihiraukan.
Ivan Petrovich Pavlov lahir 14 September 1849 di Ryazan Rusia. Ia mengemukakan bahwa dengan menerapkan strategi ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.
Pavlov mengadakan percobaan laboratories terhadap anjing. Dalam percobaan ini anjing di beri stimulus bersarat sehingga terjadi reaksi bersarat pada anjing. Contoh situasi percobaan tersebut pada manusia adalah bunyi bel di kelas untuk penanda waktu tanpa disadari menyebabkan proses penandaan sesuatu terhadap bunyi-bunyian yang berbeda dari pedagang makan, bel masuk, dan antri di bank. Dari contoh tersebut diterapkan strategi Pavlo ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan. Sementara individu tidak sadar dikendalikan oleh stimulus dari luar. Belajar menurut teori ini adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat yang menimbulkan reaksi.Yang terpenting dalam belajar menurut teori ini adalah adanya latihan dan pengulangan. Kelemahan teori ini adalah belajar hanyalah terjadi secara otomatis keaktifan dan penentuan pribadi dihiraukan.
Subscribe to:
Posts (Atom)